Laman

Sabtu, 08 Agustus 2015

Lepet

Lepet adalah makanan khas Cilacap yang terbuat dari beras ketan putih yang dicampur santan pada masa pembuatannya dan dibungkus dengan janur kuning dibentuk corong yang dililitkan ke semua bagiannya hingga berbentuk serupa dengan lontong, lalu diikatkan dengan tali bambu atau boleh juga dengan tali rafia.


Sebagai produk budaya yang diwariskan, tidak diketahui sejak kapan lepet disajikan sebagai panganan wajib di Cilacap pada saat syukuran dan doa ibu hamil dengan usia kandungan 7 bulan. Cilacap berlokasi di Jawa Tengah, tepatnya sebelah selatan. Selain di Cilacap terdapat pula panganan khas ini di Purwokerto yang terletak tidak jauh dari Kabupaten Cilacap.
Kemiripan produk budaya yang ada di antara Cilacap dan Purwokerto tidak semena-mena terjadi. Hal ini tidak bisa terlepas dari sejarah.
Janur kuning dianggap sebagai perlindungan Tuhan Yang Maha Esa selama masa kandungan bagi si anak yang digambarkan sebagai beras ketan. Mereka percaya bahwa untuk mendapatkan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa bagi si anak, diperlukan iman yang digambarkan dengan tali bambu yang meliliti lepet.
Tali bambu mengikat lepet dengan melilitkannya pada janur kuning atau wadah dari beras ketan. Mengapa tali bambu dipilih? Karena sifatnya yang fleksibel dan tidak getas atau mudah putus. Jika dikaji secara ilmiah, tali bambu tidak akan menimbulkan efek buruk pada kesehatan.
Akan tetapi ada sebagian besar orang yang memilih tali rafia sebagai pelilitnya. Padahal, jika dikaji secara ilmiah, tali rafia tidak yang mengalami proses pemasakan berdampak buruk pada kesehatan.
Selain karena sifatnya, tali bambu dipilih karena harapan orangtuanya supaya si anak nantinya memiliki iman yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga dalam kehidupannya kelak ia menjadi anak yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ukuran bahan pembuatan lepet sendiri tidak demikian diatur sehingga timbul perbedaan rasa dari lepet yang sudah matang. Perbedaan rasa dari lepet memunculkan mitos bahwa jika rasa lepet keasinan yang dalam bahasa Jawa disebut kasinen, anak yang akan lahir berjenis kelamin laki-laki, sedangkan jika rasa lepet hambar atau dalam bahasa Jawa disebut anyeb, anak yang akan lahir berjenis kelamin perempuan. Lantas, jika rasanya tidak keasinan ataupan tidak hambar, apakah jenis kelamin anak yang akan lahir?
Hal ini membuat kita penasaran, apakah mitos tersebut benar karena beberapa mitos sesuai dengan kenyataan dan sebagai umat beragama apakah beberapa kenyataan yang sesuai mitos menjadi dasar kita untuk mempercayai kebenaran dari mitos itu sendiri.

Sebagai umat beragama, yang mengenal adanya Tuhan dan menaruh kepercayaan satu-satunya kepada Tuhan Yang Maha Esa, bagaimana sebaiknya kita menanggapi keberadaan mitos tersebut?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Leave your comment :)