Laman

Jumat, 27 Desember 2013

Single or in a Relationship: An argumentative essay


“Being a normal teenager means you have to be in a relationship with someone special.” That common saying may contain some truth, but having someone special related to a boyfriend or girlfriend is not the factor to be a normal teenager. Despite the good of being in a relationship, being single as a teenager gives more impact.
Firstly, teenagers feel lonely in boredom. Having someone special makes you ignore how lonely you are in boredom. You can contact your special one and share any topic anytime as agreed before. If your special one is not there for you anytime, he must be out there thinking of you, feeling sorry, and trying to create a good time anyway. On the other hand, being single may cause you feel lonely in boredom often, because you don’t know what to do yourself. But, you can actually defeat your loneliness in boredom by communicating with your buddies, even making a good time with your family, or just doing your hobby, assignments, and other things meaningful.
Secondly, having someone special can make you feel special or lucky. Unlike being single, you may feel unlucky because of not being recognized as in love with your crush, teenagers tend to rush about recognition. You may also think that you are not important enough and look imperfect to someone. Those nasty thoughts you made yourself won’t lead you to maturity. Being single doesn’t mean you are not special because there have been those loving you anyways, good friends and family, even mighty God.
Thirdly, you will learn to treat someone well. There are problems you may face in a relationship. That’s why you and your special one will always try to keep your relationship. You both try to trust each other, be patient, or even be honest about your feelings and opinions. Nevertheless, you can also learn about trust, patience, and honesty in your family, groups, or even communities.
Lastly, your special one could be your motivation. Laziness may cause failure at achieving goals. No worries because you special one would support you by forcing you to work hard, cheering you up, and giving you any present making you in a good mood. Yet, you want to please your parents, don’t you? No matter how your parents’ support for you is, you should always be motivated to be a good child for them.

To put the whole things in a nutshell, being a normal teenager doesn’t always mean having to have someone special. There are other things more meaningful to be done as a teenager, especially pleasing God by pleasing your parents. In many ways, you can kill your loneliness and realize how special you are.

Minggu, 08 Desember 2013

Observasi ke SMAN 12 Jakarta

Perjalanan saya menuju SMAN 12 Jakarta pada 5 Desember 2013, di mana saya pernah menempuh pendidikan dan lulus beberapa bulan lalu, dimulai pukul 13.35 dari Gedung E FBS UNJ memakan waktu 30 menit. Sampailah saya di depan bangunan hijau dan asri beralamat di Jalan Pertanian Klender, dekat dengan SMPN 198 Jakarta dan Stasiun Klender setelah diantar sebuah bus berwarna jingga atau Metromini 47 kemudian bergegas mengenakan Almamater Hijau saya. Cuaca yang terik tidak mengurangi semangat Sang Satpam untuk memberikan senyuman terhadap saya. Beliau sempat menanyakan tujuan saya dan dengan  cool-nya, saya berargumen bahwa hendak menyerahkan surat keterangan. Tepatnya, Surat Keterangan Observasi yang saya urus di BAAK pada tanggal 27 November 2013 dan baru diterima 2 Desember 2013.
Tepat di depan pintu masuk, saya tidak menjumpai siapapun di meja tamu. Sempat panik, saya hanya melihat sekumpulan siswa yang duduk di lobby dan para siswa lainnya mayoritas berada di luar ruang kelas. Beruntungnya, Ibu Murni berpapasan saat saya berdiri dengan panik tapi berusaha santai di pintu masuk. Saya menyapa beliau dan menjelaskan keperluan saya. Para siswa sejak hari itu sedang dalam Pekan Remedial UAS katanya.
Saya diarahkan untuk langsung beranjak ke Ruang Tata Usaha, dekat lobby. Sangat jelas, ada beberapa kelompok siswa yang duduk melingkar, bersama-sama berbincang satu sama lain, dan bersenda gurau di lobby juga di ruang kelas dekat lobby. Di lobby terdapat semacam papan informasi digital juga lemari besar berisikan piala-piala. Ada pula yang belajar di samping Taman SMAN 12 Jakarta duduk berkelompok sepanjang jalan depan Laboratorium Biologi.
Mengurus perizinan dengan menunjukkan Surat Keterangan Observasi kepada TU sebentar saja, saya diarahkan menuju Ruang Wakil Kepala Sekolah oleh seorang petugas TU. Menunggu sebentar, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Ibu Nining Triningsih, Guru Ekonomi Terapan dan Ibu Sri Nurhidayati, Guru Seni Rupa. Kami membicarakan bagaimana dampak Kurikulum 2013 terhadap cara belajar siswa, pemberian PR (Pekerjaan Rumah) yang banyak terhadap prestasi siswa, dan juga penggunaan metode presentasi dengan Microsoft Office Power Point mengingat sudah hampir satu tahun saya tidak lagi belajar di SMAN 12 Jakarta dan belum menentukan topik pembicaraan yang pas.
Kurikulum 2013 ternyata berdampak besar terhadap cara belajar siswa. Memang siswa diharuskan belajar mandiri dan peran guru berkurang. Hal itu dilaksanakan dengan baik di SMAN 12 Jakarta, akan tetapi terdengar banyak keluhan karena siswa menjadi sulit memahami pelajaran SAINTEK yang memerlukan penjelasan penting dari guru. Menurut Guru
Lalu, sejak tahun ajaran 2013-2014 untuk mendapatkan bangku belajar atau diterima sebagai siswa SMAN 12 Jakarta, ada dua jalur yang bisa ditempuh, yakni seleksi rayon dan lokal. Banyak siswa baru yang mengeluh akan kejamnya SMAN 12 Jakarta, banyaknya PR. Ibu Nining Triningsih memberitahukan kepada saya kesan para alumni yang sudah survive ketika menghadapi dunia perkuliahan dan kerja karena sudah diajarkan untuk bertanggungjawab atas banyaknya PR saat mereka bersekolah di SMAN 12 Jakarta. Saya pribadi setuju dengan kesan para alumni. Baru empat bulan saya berkuliah, rasanya biasa saja jika diberikan tugas. Mengenai PR, berkeinginan untuk mewawancarai setidaknya dua siswa setelah itu.
Adapun mengenai metode presentasi, katanya siswa masih menggunakan Microsoft Power Point, melaksanakan diskusi sederhana, tapi tidak pada mata pelajaran Seni Rupa dan Ekonomi Terapan, sebab pada mata pelajaran Seni Rupa, siswa wajib menyelesaikan tugas menggambar, melukis, mendesain, dsb selama jam pelajaran. Beberapa siswa yang belum selesai harus melanjutkan pada pertemuan berikutnya. Dalam mata pelajaran ekonomi terapan, siswa menggunakan Microsoft Excel untuk penghitungan akuntasi di mana setiap pembelajaran dan kuis diselesaikan selama jam pelajaran dan tidak menjadi PR.
Selesai berbincang, saya diantarkan oleh Ibu Sri Nurhidayati ke TU lagi untuk mengurus Surat Keterangan Observasi dari SMAN 12 Jakarta untuk keperluan Laporan Observasi saya. Selama menunggu pembuatan surat tersebut, saya beranjak ke luar dan bertemu dengan seorang siswa yang panggilannya Anas. Dia merupakan siswa kelas X IPA. Menyatakan keinginan saya mewawancarainya secara informal, dia bersedia. Setelah mewawancarai Anas, saya menanyakan kesediaannya untuk difoto. Kebingungan siapa yang akan memfoto, Anas memanggil seorang temannya yang bernama Eras, siswa kelas X IPS. Beruntungnya saya, setelah menyatakan keinginan saya untuk mewawancarainya, dia bersedia. Adapun, Anas membantu mengambil foto setelah wawancara dengan Eras.
Berdasarkan wawancara antara saya dengan Anas dan Eras, dapat disimpulkan bahwa mereka tidak keberatan dengan diberikan PR (Pekerjaan Rumah) yang banyak sebab mereka bisa bersama temannya memahami materi.  Pernyataan ini membuat saya teringat kembali saat menjadi siswi SMAN 12 Jakarta, begitu banyak prestasi secara akademik dan non-akademik yang diraih dikarenakan kemauan banyak siswa untuk belajar.
Beralih kepada permintaan setuju atau tidaknya mereka terhadap cara belajar di Italia, di mana siswa tidak dibebankan PR, melainkan diberikan waktu luang untuk berkarya. Anas dan Eras menanggapinya dengan tegas bahwa mereka tetap setuju dengan diberikan PR sebab jika tidak diberikan PR, mereka belum tentu belajar. Kondisi dan latar belakang budaya manusia Indonesia dan Italia jelas berbeda, katanya. Sebab, kesadaran remaja Indonesia di mata mereka masih sangat rendah untuk setidaknya membaca buku sebentar saja, apalagi membuat karya entah itu karya tulis ataupun karya seni.
Berbicara tentang metode presentasi dengan Microsoft Power Point di kelas, masih berlangsung. Mereka mengeluhkan bahwa menjadi sulit memahami pelajaran tertentu karena kegiatan diskusi yang memakan waktu. Anas merasa terbeban karena harus mempresentasikan materi tertentu, misalnya mata pelajaran Biologi, untuk satu jam pelajaran dan menjelaskannya kepada teman-teman sekelasnya bersama kelompoknya di saat dia belum terlalu paham. Jam pelajaran tersita dan guru tidak punya banyak waktu untuk menerangkan sehingga banyak siswa belum paham betul terhadap materi baru. Pada mata pelajaran Fisika, Kimia dan Matematika, Anas dan siswa kelas IPA lainnya hanya perlu mengerjakan dan menerangkan soal matematika kepada teman-teman lainnya di depan kelas tanpa Microsoft Power Point. Hal demikian juga terjadi pada Eras di mata pelajaran IPS tertentu.
Setelah itu saya berpamitan dan kembali ke Ruang TU. Saya diarahkan ke Ruang Kepala Sekolah. Saya pun masuk dan berjumpa dengan Ibu Idan Sudarti, Kepala SMAN 12 Jakarta. Beliau menyapa dengan hangat dan memberikan Surat Keterangan Observasi yang sudah ditandatangani olehnya kepada saya. Kami berbincang sedikit, saya menjelaskan intisari wawancara saya dengan siswa dan beliau pun memberi tanggapan positif. Ia menceritakan pengalaman di Australia, siswa belajar dari pagi sampai sore, tanpa diberikan PR. Saya diizinkan mengambil foto beliau. Kemudian, saya berpamitan dan berterima kasih. Melihat jam kembali sudah jam 14.35. Bersyukur karena saya berhasil membuang rasa malu dan bisa memperoleh beberapa informasi yang berguna.

Kamis, 03 Oktober 2013

Tugas OCAB LKM: Resensi

Nelson Mandela dalam Upaya
Membentuk Negara untuk Semua Orang



Identitas Buku
Judul Buku     : Nelson Mandela: Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan (Long Walk to Freedom)
Pengarang       : Dra. Siti Maryani, MA
Tebal Buku      : 136 hlm, 13,5 X 20 cm
Penerbit           : A+ Plus Books
Tahun Terbit    : 2010
Tempat Terbit  : Yogyakarta

Dra. Siti Maryani, MA memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang liberal arts, seperti psikologi, pendidikan, dan lain-lain. Buku ini yang sifatnya mendidik bisa menjadi alasan mengapa beliau menulisnya.
Nama besar Nelson Mandela selalu membuat dunia terhenyak. Dia dikenal sebagai pria yang menyatakan bahwa dirinya rela mati demi mewujudkan masyarakat demokratis yang bebas di mana semua orang bisa hidup bersama secara harmonis.
Beranjak remaja, Nelson menjadi anggota Majelis Perwakilan Mahasiswa dan berkali-kali melakukan aksi-aksi protes memboikot aturan pemerintah bersama African National Congress (ANC). Di luar organisasi, sebagai pengacara bersama Tambo, orang-orang Transkei menyebut mereka sebagai “ahli hukum dari tanah kita”. Tahun 1962, Nelson ditangkap lagi dan divonis hukuman seumur hidup. Nelson dibuang ke Pulau Robben, penjara pulau yang terkenal paling ganas di lepas Afrika Selatan.
Suatu hari, Samuel Dash, seorang profesor hukum dari AS, pernah berhasil mengunjungi dan mewawancarai Nelson Mandela di Pulau Robben. Dia merasa berjumpa dengan seorang kepala negara karena Nelson terlihat sangat percaya diri, tegas, dan santun. Nelson menegaskan kepada Dash bahwa gerakkannya bukan untuk membentuk “negara kulit hitam”, melainkan “negara untuk semua orang”.
Penjara bukan lagi tempat penghukuman, melainkan tempat melakukan pergerakan kemanusiaan bagi Nelson Mandela. Beliau dengan kreatifnya menulis pesan untuk orang-orang terkasihnya juga menulis pengajaran bagi teman-temannya di penjara.
“Kalau bukan karena kunjungan-kunjunganmu, surat-suratmu yang indah, serta cintamu, aku sudah hancur bertahun-tahun lalu.” –Mandela di dalam penjara menulis surat untuk kekasihnya, Winnie.
Nelson sempat dipindahkan ke penjara Pollsmoor tapi dia kemudian dikembalikan ke Pulau Robben. Pemerintah kulit putih tidak menghendaki Mandela mati di penjara. Tak heran jika pada 1985, Nelson ditawari pembebasan oleh Presiden Botha dengan syarat. Akan tetapi, dia menolak dan mengajukan syarat pembebasan bagi dirinya sendiri. Setelah keluar penjara dengan rumitnya, Nelson Mandela memenangkan Nobel Perdamaian. Pada 1994, dia terpilih sebagai presiden Afrika Selatan dalam pemilihan pertama kali untuk semua ras.
Dengan membaca buku “Nelson Mandela: Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan (Long Walk to Freedom)”, kita bisa mengetahui lebih banyak hal menarik, baik kisah politik maupun percintaan Nelson Mandela. Pemilihan judul yang tepat patut diapresiasi karena mewakili isi buku ini. Selain itu, cover buku tampak apik dan menarik. Ditambah dengan referensi terkait tulisan yang terdapat di dalam buku ini begitu menambah wawasan.

Sayangnya, kualitas pencetakan buku masih perlu ditingkatkan karena ada ketidakrapian. Juga, kurang menariknya lembaran isi buku karena hanya berwarna hitam dan putih. Adapun, sulit bagi pembaca untuk memahami kisah hidup Nelson Mandela secara kronologis akibat pengelompokkan kisah menurut tema tertentu. Oleh karena itu, buku ini direkomendasikan kepada pembaca usia remaja dan dewasa.

Rabu, 31 Juli 2013

#2 BE THANKFUL FOR WHAT YOU HAVE

Hello, loyal readers !!!
How was your day? Hopefully, it was great :)
Today, it is another gift. It is another chance.
There is another hope, struggles, and possibilities.
Let's move to what you are hoping for.
We all have hopes. Some hopes became wishes. That's not because you didn't deserve it.
That's the reason why you have to be thankful for what you have had and reached.
God is wise and kind. He knows what's best for you !!!!
Perhaps, He has prepared something better and suitable for you. Never have doubt on God! NEVER :)
Uhm, I am being so big mouth. But, hey !!!
I want you to think about what is happening outside.
There are people starving, sad, confused, lonely, crazy, forgotten.
YOU ARE NOT LIKE THAT !
YOU HAVE A BEAUTIFUL LIFE TO BE THANKFUL FOR !
So, what to do next?
Do you still want to be sad about your failures?
NO, HELL NO !!
First, be THANKFUL !
Ultimately, a winner ALWAYS TRY and NEVER GIVE UP :""")
No one will be the same just they are today. No one will always fail.
You have that chance to reach your hopes or dreams.
That's all.
Thanks, buddies :)

Senin, 29 Juli 2013

Baca Aja (Tugas Essai MPA Jurusan Bahasa Jerman UNJ 2013)

Hai teman-teman yang masih setia mengukir sejarah, yakni singgah di blog saya :)
Sekarang, saya ingin berbagi sedikit hal menarik dalam rangka menyelesaikan tugas MPA Jurusan Bahasa Jerman UNJ.
Baiklah, kita mulai dengan kenapa saya memilih jurusan ini.
Selama menduduki bangku SMA, saya sempat belajar dasar-dasar bahasa Jerman. Saya sedikit lebih menyukai bahasa asing yang satu ini karena cara pengucapannya tidak sesulit yang dibayangkan. Ya, mungkin ada sedikit huruf yang dibaca secara agak rumit, tapi tetap bisa dilatih jika kamu mau mencoba membacanya.
Ada keinginan sederhana jika saya menjadi mahasiswi lulusan jurusan ini, yakni saya bisa melanjutkan pendidikan perkuliahan dengan beasiswa di Jerman, mungkin jurusan Sastra Jerman atau jurusan lain yang saya minati. Pak Habibie saja bisa, maka saya pun bisa :P

Berikut ini hal-hal menarik yang saya dengar sehingga saya jatuh cinta pada Jerman.
·         Disiplin
Menurut saya, kedisiplinan sangat menjanjikan masa depan yang cerah. Saya ingin membiasakan diri menjadi pribadi yang disiplin seperti orang Jerman pada umumnya.
Kedisiplinan di Jerman bisa dijadikan contoh, yakni dalam hal kedatangan kendaraan umum, baik itu bus, kereta api, pesawat terbang, dan lain-lain. Bagi saya, waktu sangat berharga dan saya bukan orang yang suka menunggu.
Seringkali, saya berusaha datang tepat waktu tapi saya yang harus menunggu kedatangan mereka yang tidak tepat waktu. Hal itu sangat menyebalkan dan merugikan saya secara pribadi.
Saya yakin, keterlambatan banyak orang Indonesia selain disebabkan kedatangan kendaraan di Indonesia yang terlambat, mereka memiliki kepribadian yang lamban dan suka menunda-nunda. Kedisiplinan seakan menjadi lenyap di Indonesia.

·         Peduli Kebersihan
Saya heran, orang Jerman adalah orang yang memiliki cara hidup yang lebih bebas dibandingkan dengan Indonesia. Berarti, mereka bebas membuang sampah sembarangan. Tapi tidak, mereka justru bebas dalam hal mengembangkan diri menjadi lebih baik. Mereka dengan sadar membuang sampah di tempat sampah, sesuai dengan jenis sampahnya. Sikap tersebut membuat setiap sudut wilayah dan tempat di Jerman tampak asri.
Katanya sih, ada peraturan tentang kebersihan yang secara tegas ditegakkan. Denda yang tidak murah jika melanggar aturan tersebut menjadi ancaman tersendiri, bukan? Uniknya, Indonesia memiliki sejumlah besar peraturan perundang-undangan yang memiliki sanksi yang bisa dibilang tidak murah. Tapi kenyataannya, peraturan tersebut dianggap tidak ada lagi. Banyak orang Indonesia yang secara sadar membuang sampah sembarangan tanpa takut dikenai sanksi atau denda.

Dua hal di atas ingin saya buktikan sendiri jika saya berhasil menjejaki Jerman. Saya berjanji sepulang dari Jerman saya akan berusaha menerapkan kedua hal tersebut dan mempengaruhi siapapun di sekitar saya untuk menerapkan hal-hal tersebut bersama-sama sehingga Indonesia ke depannya bisa menjadi negara maju dalam hal kedisiplinan dan kebersihan, sebagaimana Jerman.

Rabu, 10 Juli 2013

#1 TRY TO LOOK HAPPY

Hello friends :)

I feel lucky to have today. There is always a chance to say "HI" to dreams and people around me.
Fortunately, I can start today with a new hope.
Let our heart give thanks to the Lord for today. You are today still having a chance to breathe.

So, how are you today?
I always meet people saying "I'm good" or "I'm okay" whenever I ask them this question.
Commonly, people say so.
Never want to be common ! Be different, OK?
Can't they realise that they have a special gift today? They can do their daily routines because God gives them a new day?
They should say  "I'm very good"
Why do I say so?
I want you guys to feel lucky and thankful in every situation and condition. There's so much things to be thankful for, right?
Do you know that the way you respond any question makes impact?
You know, we are born to please God by making people around us smile.
The way we respond others could influence anyone talking with us. So, never stop trying to be spirited in giving response. Try to look happy !! Your effort to look like that helps you feel better.

So, whatever the situation is, try to look happy ^.^

Kamis, 23 Mei 2013

Mereka Istimewa




They are my beloved friends.
We served in Rohkris SMAN 12 Jakarta together.
The girls are united in name Parbada Petra



Komisi Remaja GKI Bekasi Timur
I love them. They are gonna be true servants !


Hand in Hand GKI Summer Camp Hurraaaay !!!



Profvedos !
Property of Nueve Dos *I miss them*


COTENO ^.^
Community of Ten-One


PSKJ Timur
We realise that christian students need Jesus.




*DISCO*
Abandoned children of Ucup yeaay^^




-MONSTER-
They are awesome^^




Bhavyanindha Drayadhava
2011 - 2012

Jumat, 15 Februari 2013

What God does for you

You always face problems, don't you?
You always feel worried, don't you?
You wanna get from your problems out, don't you?
You wanna know what the solution is, don't you?
So, there is God who is always there for you.
Feel free to meet Him up in prayer ;)


Minggu, 10 Februari 2013

Memperoleh Panggilan Surgawi


Filipi 3 : 7 – 16

Terjemahan Baru
Bahasa Indonesia Sehari Hari
English [Amplified]
(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
(7) Tetapi karena Kristus, maka semuanya yang dahulu saya anggap sebagai sesuatu yang menguntungkan, sekarang menjadi sesuatu yang merugikan.
(7) But whatever former things I had that might have been gains to me, I have come to consider as [ one combined] loss for Christ's sake.
(8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
(8) Bukan saja hal-hal tersebut; tetapi malah segala sesuatu saya anggap sebagai hal-hal yang hanya merugikan saja. Yang saya miliki sekarang ini adalah lebih berharga: yaitu mengenal Kristus Yesus, Tuhanku. Karena Kristus, maka saya sudah melepaskan segala-galanya. Saya anggap semuanya itu sebagai sampah saja, supaya saya bisa mendapat Kristus,
(8) Yes, furthermore, I count everything as loss compared to the possession of the priceless privilege (the overwhelming preciousness, the surpassing worth, and supreme advantage) of knowing Christ Jesus my Lord and of progressively becoming more deeply and intimately acquainted with Him [of perceiving and recognizing and understanding Him more fully and clearly]. For His sake I have lost everything and consider it all to be mere rubbish (refuse, dregs), in order that I may win (gain) Christ (the Anointed One),
(9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
(9) dan betul-betul bersatu dengan Dia. Hubungan yang baik dengan Allah tidak lagi saya usahakan sendiri dengan jalan taat kepada hukum agama. Sekarang saya mempunyai hubungan yang baik dengan Allah, karena saya percaya kepada Kristus. Jadi, hubungan yang baik itu datang dari Allah, dan berdasarkan percaya kepada Yesus Kristus.
(9) And that I may [actually] be found and known as in Him, not having any [self-achieved] righteousness that can be called my own, based on my obedience to the Law's demands (ritualistic uprightness and supposed right standing with God thus acquired), but possessing that [genuine righteousness] which comes through faith in Christ (the Anointed One), the [truly] right standing with God, which comes from God by [saving] faith.
(10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
(10) Satu-satunya yang saya inginkan ialah supaya saya mengenal Kristus, dan mengalami kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Saya ingin turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya.
(10) [For my determined purpose is] that I may know Him [that I may progressively become more deeply and intimately acquainted with Him, perceiving and recognizing and understanding the wonders of His Person more strongly and more clearly], and that I may in that same way come to know the power outflowing from His resurrection [ which it exerts over believers], and that I may so share His sufferings as to be continually transformed [in spirit into His likeness even] to His death, [in the hope]
(11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
(11) Dan saya berharap bahwa saya sendiri akan dihidupkan kembali dari kematian.
(11) That if possible I may attain to the [ spiritual and moral] resurrection [that lifts me] out from among the dead [even while in the body].
(12) Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
(12) Saya tidak berkata bahwa saya sudah berhasil, atau sudah menjadi sempurna. Tetapi saya terus saja berusaha merebut hadiah yang disediakan oleh Kristus Yesus. Untuk itulah Ia sudah merebut saya dan menjadikan saya milik-Nya.
(12) Not that I have now attained [this ideal], or have already been made perfect, but I press on to lay hold of (grasp) and make my own, that for which Christ Jesus (the Messiah) has laid hold of me and made me His own.
(13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
(13) Tentunya, Saudara-saudara, saya sesungguhnya tidak merasa bahwa saya sudah berhasil merebut hadiah itu. Akan tetapi ada satu hal yang saya perbuat, yaitu saya melupakan apa yang ada di belakang saya dan berusaha keras mencapai apa yang ada di depan.
(13) I do not consider, brethren, that I have captured and made it my own [yet]; but one thing I do [it is my one aspiration]: forgetting what lies behind and straining forward to what lies ahead,
(14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
(14) Itu sebabnya saya berlari terus menuju tujuan akhir untuk mendapatkan kemenangan, yaitu hidup di surga; untuk itulah Allah memanggil kita melalui Kristus Yesus.
(14) I press on toward the goal to win the [supreme and heavenly] prize to which God in Christ Jesus is calling us upward.
(15) Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
(15) Kita semua yang sudah dewasa secara rohani, haruslah bersikap begitu. Tetapi kalau di antaramu ada yang berpendapat lain, maka Allah akan menjelaskannya juga kepadamu.
(15) So let those [of us] who are spiritually mature and full-grown have this mind and hold these convictions; and if in any respect you have a different attitude of mind, God will make that clear to you also.
(16) Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

Sebuah ilustrasi tentang dua gelas berisi penuh cairan berwarna merah. Mari bayangkan jika gelas pertama dituangkan dengan cairan berwarna kuning sedangkan gelas kedua dituangkan cairan berwarna jernih secara terus menerus sampai terjadi perubahan warna. Benar sekali, cairan dalam gelas pertama tampak makin berwarna gelap dan menumpahkan cairan berwarna gelap. Adapun cairan pada gelas kedua berubah menjadi jernih dan menumpahkan cairan jernih.
Melalui ilustrasi ini, kita menganggap bahwa cairan berwarna kuning itu adalah kesukaan akan hal – hal duniawi sedangkan cairan jernih tersebut adalah kesukaan terhadap pengenalan akan Kristus.
Hal duniawi tersebut disebut “keuntungan palsu” seperti dikatakan oleh Rasul Paulus. Hal tersebut merugikan kita. Membuat kita makin gelap dan membagikan gelapnya kehidupan kita kepada dunia ini. Padahal, kita diutus untuk menjadi terang dunia, bukan? Lantas “keuntungan palsu” tersebut apa ya?
Keuntungan palsu adalah apapun yang kita terima dan alami akibat sikap kita yang secara tidak sadar mengejar kebahagiaan kita saja tanpa memikirkan apakah hal demikian juga membahagiakan Kristus. Jika tidak membahagiakan Kristus, itulah kerugian. Malahan, kita seharusnya menganggapnya "sampah" atau kesia-siaan. Untuk apa mengusahakan kesia-siaan ? Kita merugi dan merugikan orang lain.
Hawa nafsu adalah pemberian Tuhan yang dapat menghancurkan diri kita sendiri jika kita tidak bisa mengendalikannya. Kita melakukan kejahatan sederhana sampai kompleks entah disadari atau tidak. Kita merasa lega, tenang, ataupun sukacita. Akan tetapi, mata hati kita tertutup oleh kebahagiaan semu sehingga kita sulit menyadari bahwa kita tidak membahagialan Kristus, Sang Empunya Kehidupan kita.
Rasul Paulus menilai bahwa pengenalan akan Kristus adalah keuntungan dan lebih mulia. Mengapa demikian ? Sebagai pembanding, jika ada seseorang berusaha mengenal kamu lebih mendalam bagaimana perasaan kamu? Tentu bahagia, bukan? Ditambah lagi kamu menanggapinya dengan sukacita dan pastinya ia pun bersukacita. Kristus pun bahagia ketika kita mau berusaha mengenalnya. Sehingga kita beroleh keuntungan, yakni membahagiakan Kristus juga beroleh sukacita abadi.
Seperti hubungan kamu dengan sahabatmu, jika kamu dan Kristus saling mengenal, dipastikan kamu selalu menerima hal – hal baik entah itu berkat ataupun sukacita abadi yang melimpah, istimewanya kamu beroleh keselamatan dan hidup yang kekal dari Kristus sendiri.
Sesuai dengan ilustrasi, gelas kedua berisi cairan merah dituangkan terus menerus dengan cairan jernih akan menumpahkan cairan jernih yang melambangkan perubahan positif karena menjadi berwarna cerah. Cairan jernih itu adalah pengenalan akan Kristus. Semakin kamu berusaha mengenal Kristus, kamu pun semakin beroleh berkat dan sukacita abadi yang bisa dibagikan kepada dunia dalam rangka menyelesaikan misi sebagai terang dunia.
Bagaimana sikap kita selanjutnya ? Kita dituntut untuk mengubah tujuan akhir kita menjadi memperoleh panggilan sorgawi. Kebahagiaan sorgawi tersebut berarti mendapatkan kemenangan, yaitu hidup di surga. Untuk itulah Allah memanggil kita melalui Kristus Yesus.
Memperoleh kebahagiaan sorgawi dimulai dengan “perjuangan” mengenal Kristus lebih dalam sehingga kita bisa membedakan mana kehendak dan mana larangan-Nya sampai dengan memberlakukan cara hidup yang sesuai kehendak-Nya.
Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah melakukan HPDT (Hubungan Pribadi Dengan Tuhan) atau biasa disebut Saat Teduh. Selain itu, bertekunlah dalam persekutuan dengan sesama di mana dalam rangka lebih mengenal Kristus, misalnya KTB (Kelompok Tumbuh Bersama), KK (Kelompok Kecil), Komisi Remaja Gereja, dsb. Dalam persekutuan tersebut kita pun akan bersama – sama belajar memberlakukan cara hidup yang sesuai dengan kehendak Kristus.