Laman

Jumat, 27 Desember 2013

Single or in a Relationship: An argumentative essay


“Being a normal teenager means you have to be in a relationship with someone special.” That common saying may contain some truth, but having someone special related to a boyfriend or girlfriend is not the factor to be a normal teenager. Despite the good of being in a relationship, being single as a teenager gives more impact.
Firstly, teenagers feel lonely in boredom. Having someone special makes you ignore how lonely you are in boredom. You can contact your special one and share any topic anytime as agreed before. If your special one is not there for you anytime, he must be out there thinking of you, feeling sorry, and trying to create a good time anyway. On the other hand, being single may cause you feel lonely in boredom often, because you don’t know what to do yourself. But, you can actually defeat your loneliness in boredom by communicating with your buddies, even making a good time with your family, or just doing your hobby, assignments, and other things meaningful.
Secondly, having someone special can make you feel special or lucky. Unlike being single, you may feel unlucky because of not being recognized as in love with your crush, teenagers tend to rush about recognition. You may also think that you are not important enough and look imperfect to someone. Those nasty thoughts you made yourself won’t lead you to maturity. Being single doesn’t mean you are not special because there have been those loving you anyways, good friends and family, even mighty God.
Thirdly, you will learn to treat someone well. There are problems you may face in a relationship. That’s why you and your special one will always try to keep your relationship. You both try to trust each other, be patient, or even be honest about your feelings and opinions. Nevertheless, you can also learn about trust, patience, and honesty in your family, groups, or even communities.
Lastly, your special one could be your motivation. Laziness may cause failure at achieving goals. No worries because you special one would support you by forcing you to work hard, cheering you up, and giving you any present making you in a good mood. Yet, you want to please your parents, don’t you? No matter how your parents’ support for you is, you should always be motivated to be a good child for them.

To put the whole things in a nutshell, being a normal teenager doesn’t always mean having to have someone special. There are other things more meaningful to be done as a teenager, especially pleasing God by pleasing your parents. In many ways, you can kill your loneliness and realize how special you are.

Minggu, 08 Desember 2013

Observasi ke SMAN 12 Jakarta

Perjalanan saya menuju SMAN 12 Jakarta pada 5 Desember 2013, di mana saya pernah menempuh pendidikan dan lulus beberapa bulan lalu, dimulai pukul 13.35 dari Gedung E FBS UNJ memakan waktu 30 menit. Sampailah saya di depan bangunan hijau dan asri beralamat di Jalan Pertanian Klender, dekat dengan SMPN 198 Jakarta dan Stasiun Klender setelah diantar sebuah bus berwarna jingga atau Metromini 47 kemudian bergegas mengenakan Almamater Hijau saya. Cuaca yang terik tidak mengurangi semangat Sang Satpam untuk memberikan senyuman terhadap saya. Beliau sempat menanyakan tujuan saya dan dengan  cool-nya, saya berargumen bahwa hendak menyerahkan surat keterangan. Tepatnya, Surat Keterangan Observasi yang saya urus di BAAK pada tanggal 27 November 2013 dan baru diterima 2 Desember 2013.
Tepat di depan pintu masuk, saya tidak menjumpai siapapun di meja tamu. Sempat panik, saya hanya melihat sekumpulan siswa yang duduk di lobby dan para siswa lainnya mayoritas berada di luar ruang kelas. Beruntungnya, Ibu Murni berpapasan saat saya berdiri dengan panik tapi berusaha santai di pintu masuk. Saya menyapa beliau dan menjelaskan keperluan saya. Para siswa sejak hari itu sedang dalam Pekan Remedial UAS katanya.
Saya diarahkan untuk langsung beranjak ke Ruang Tata Usaha, dekat lobby. Sangat jelas, ada beberapa kelompok siswa yang duduk melingkar, bersama-sama berbincang satu sama lain, dan bersenda gurau di lobby juga di ruang kelas dekat lobby. Di lobby terdapat semacam papan informasi digital juga lemari besar berisikan piala-piala. Ada pula yang belajar di samping Taman SMAN 12 Jakarta duduk berkelompok sepanjang jalan depan Laboratorium Biologi.
Mengurus perizinan dengan menunjukkan Surat Keterangan Observasi kepada TU sebentar saja, saya diarahkan menuju Ruang Wakil Kepala Sekolah oleh seorang petugas TU. Menunggu sebentar, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Ibu Nining Triningsih, Guru Ekonomi Terapan dan Ibu Sri Nurhidayati, Guru Seni Rupa. Kami membicarakan bagaimana dampak Kurikulum 2013 terhadap cara belajar siswa, pemberian PR (Pekerjaan Rumah) yang banyak terhadap prestasi siswa, dan juga penggunaan metode presentasi dengan Microsoft Office Power Point mengingat sudah hampir satu tahun saya tidak lagi belajar di SMAN 12 Jakarta dan belum menentukan topik pembicaraan yang pas.
Kurikulum 2013 ternyata berdampak besar terhadap cara belajar siswa. Memang siswa diharuskan belajar mandiri dan peran guru berkurang. Hal itu dilaksanakan dengan baik di SMAN 12 Jakarta, akan tetapi terdengar banyak keluhan karena siswa menjadi sulit memahami pelajaran SAINTEK yang memerlukan penjelasan penting dari guru. Menurut Guru
Lalu, sejak tahun ajaran 2013-2014 untuk mendapatkan bangku belajar atau diterima sebagai siswa SMAN 12 Jakarta, ada dua jalur yang bisa ditempuh, yakni seleksi rayon dan lokal. Banyak siswa baru yang mengeluh akan kejamnya SMAN 12 Jakarta, banyaknya PR. Ibu Nining Triningsih memberitahukan kepada saya kesan para alumni yang sudah survive ketika menghadapi dunia perkuliahan dan kerja karena sudah diajarkan untuk bertanggungjawab atas banyaknya PR saat mereka bersekolah di SMAN 12 Jakarta. Saya pribadi setuju dengan kesan para alumni. Baru empat bulan saya berkuliah, rasanya biasa saja jika diberikan tugas. Mengenai PR, berkeinginan untuk mewawancarai setidaknya dua siswa setelah itu.
Adapun mengenai metode presentasi, katanya siswa masih menggunakan Microsoft Power Point, melaksanakan diskusi sederhana, tapi tidak pada mata pelajaran Seni Rupa dan Ekonomi Terapan, sebab pada mata pelajaran Seni Rupa, siswa wajib menyelesaikan tugas menggambar, melukis, mendesain, dsb selama jam pelajaran. Beberapa siswa yang belum selesai harus melanjutkan pada pertemuan berikutnya. Dalam mata pelajaran ekonomi terapan, siswa menggunakan Microsoft Excel untuk penghitungan akuntasi di mana setiap pembelajaran dan kuis diselesaikan selama jam pelajaran dan tidak menjadi PR.
Selesai berbincang, saya diantarkan oleh Ibu Sri Nurhidayati ke TU lagi untuk mengurus Surat Keterangan Observasi dari SMAN 12 Jakarta untuk keperluan Laporan Observasi saya. Selama menunggu pembuatan surat tersebut, saya beranjak ke luar dan bertemu dengan seorang siswa yang panggilannya Anas. Dia merupakan siswa kelas X IPA. Menyatakan keinginan saya mewawancarainya secara informal, dia bersedia. Setelah mewawancarai Anas, saya menanyakan kesediaannya untuk difoto. Kebingungan siapa yang akan memfoto, Anas memanggil seorang temannya yang bernama Eras, siswa kelas X IPS. Beruntungnya saya, setelah menyatakan keinginan saya untuk mewawancarainya, dia bersedia. Adapun, Anas membantu mengambil foto setelah wawancara dengan Eras.
Berdasarkan wawancara antara saya dengan Anas dan Eras, dapat disimpulkan bahwa mereka tidak keberatan dengan diberikan PR (Pekerjaan Rumah) yang banyak sebab mereka bisa bersama temannya memahami materi.  Pernyataan ini membuat saya teringat kembali saat menjadi siswi SMAN 12 Jakarta, begitu banyak prestasi secara akademik dan non-akademik yang diraih dikarenakan kemauan banyak siswa untuk belajar.
Beralih kepada permintaan setuju atau tidaknya mereka terhadap cara belajar di Italia, di mana siswa tidak dibebankan PR, melainkan diberikan waktu luang untuk berkarya. Anas dan Eras menanggapinya dengan tegas bahwa mereka tetap setuju dengan diberikan PR sebab jika tidak diberikan PR, mereka belum tentu belajar. Kondisi dan latar belakang budaya manusia Indonesia dan Italia jelas berbeda, katanya. Sebab, kesadaran remaja Indonesia di mata mereka masih sangat rendah untuk setidaknya membaca buku sebentar saja, apalagi membuat karya entah itu karya tulis ataupun karya seni.
Berbicara tentang metode presentasi dengan Microsoft Power Point di kelas, masih berlangsung. Mereka mengeluhkan bahwa menjadi sulit memahami pelajaran tertentu karena kegiatan diskusi yang memakan waktu. Anas merasa terbeban karena harus mempresentasikan materi tertentu, misalnya mata pelajaran Biologi, untuk satu jam pelajaran dan menjelaskannya kepada teman-teman sekelasnya bersama kelompoknya di saat dia belum terlalu paham. Jam pelajaran tersita dan guru tidak punya banyak waktu untuk menerangkan sehingga banyak siswa belum paham betul terhadap materi baru. Pada mata pelajaran Fisika, Kimia dan Matematika, Anas dan siswa kelas IPA lainnya hanya perlu mengerjakan dan menerangkan soal matematika kepada teman-teman lainnya di depan kelas tanpa Microsoft Power Point. Hal demikian juga terjadi pada Eras di mata pelajaran IPS tertentu.
Setelah itu saya berpamitan dan kembali ke Ruang TU. Saya diarahkan ke Ruang Kepala Sekolah. Saya pun masuk dan berjumpa dengan Ibu Idan Sudarti, Kepala SMAN 12 Jakarta. Beliau menyapa dengan hangat dan memberikan Surat Keterangan Observasi yang sudah ditandatangani olehnya kepada saya. Kami berbincang sedikit, saya menjelaskan intisari wawancara saya dengan siswa dan beliau pun memberi tanggapan positif. Ia menceritakan pengalaman di Australia, siswa belajar dari pagi sampai sore, tanpa diberikan PR. Saya diizinkan mengambil foto beliau. Kemudian, saya berpamitan dan berterima kasih. Melihat jam kembali sudah jam 14.35. Bersyukur karena saya berhasil membuang rasa malu dan bisa memperoleh beberapa informasi yang berguna.