Laman

Minggu, 10 Februari 2013

Memperoleh Panggilan Surgawi


Filipi 3 : 7 – 16

Terjemahan Baru
Bahasa Indonesia Sehari Hari
English [Amplified]
(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
(7) Tetapi karena Kristus, maka semuanya yang dahulu saya anggap sebagai sesuatu yang menguntungkan, sekarang menjadi sesuatu yang merugikan.
(7) But whatever former things I had that might have been gains to me, I have come to consider as [ one combined] loss for Christ's sake.
(8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
(8) Bukan saja hal-hal tersebut; tetapi malah segala sesuatu saya anggap sebagai hal-hal yang hanya merugikan saja. Yang saya miliki sekarang ini adalah lebih berharga: yaitu mengenal Kristus Yesus, Tuhanku. Karena Kristus, maka saya sudah melepaskan segala-galanya. Saya anggap semuanya itu sebagai sampah saja, supaya saya bisa mendapat Kristus,
(8) Yes, furthermore, I count everything as loss compared to the possession of the priceless privilege (the overwhelming preciousness, the surpassing worth, and supreme advantage) of knowing Christ Jesus my Lord and of progressively becoming more deeply and intimately acquainted with Him [of perceiving and recognizing and understanding Him more fully and clearly]. For His sake I have lost everything and consider it all to be mere rubbish (refuse, dregs), in order that I may win (gain) Christ (the Anointed One),
(9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
(9) dan betul-betul bersatu dengan Dia. Hubungan yang baik dengan Allah tidak lagi saya usahakan sendiri dengan jalan taat kepada hukum agama. Sekarang saya mempunyai hubungan yang baik dengan Allah, karena saya percaya kepada Kristus. Jadi, hubungan yang baik itu datang dari Allah, dan berdasarkan percaya kepada Yesus Kristus.
(9) And that I may [actually] be found and known as in Him, not having any [self-achieved] righteousness that can be called my own, based on my obedience to the Law's demands (ritualistic uprightness and supposed right standing with God thus acquired), but possessing that [genuine righteousness] which comes through faith in Christ (the Anointed One), the [truly] right standing with God, which comes from God by [saving] faith.
(10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
(10) Satu-satunya yang saya inginkan ialah supaya saya mengenal Kristus, dan mengalami kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Saya ingin turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya.
(10) [For my determined purpose is] that I may know Him [that I may progressively become more deeply and intimately acquainted with Him, perceiving and recognizing and understanding the wonders of His Person more strongly and more clearly], and that I may in that same way come to know the power outflowing from His resurrection [ which it exerts over believers], and that I may so share His sufferings as to be continually transformed [in spirit into His likeness even] to His death, [in the hope]
(11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
(11) Dan saya berharap bahwa saya sendiri akan dihidupkan kembali dari kematian.
(11) That if possible I may attain to the [ spiritual and moral] resurrection [that lifts me] out from among the dead [even while in the body].
(12) Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
(12) Saya tidak berkata bahwa saya sudah berhasil, atau sudah menjadi sempurna. Tetapi saya terus saja berusaha merebut hadiah yang disediakan oleh Kristus Yesus. Untuk itulah Ia sudah merebut saya dan menjadikan saya milik-Nya.
(12) Not that I have now attained [this ideal], or have already been made perfect, but I press on to lay hold of (grasp) and make my own, that for which Christ Jesus (the Messiah) has laid hold of me and made me His own.
(13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
(13) Tentunya, Saudara-saudara, saya sesungguhnya tidak merasa bahwa saya sudah berhasil merebut hadiah itu. Akan tetapi ada satu hal yang saya perbuat, yaitu saya melupakan apa yang ada di belakang saya dan berusaha keras mencapai apa yang ada di depan.
(13) I do not consider, brethren, that I have captured and made it my own [yet]; but one thing I do [it is my one aspiration]: forgetting what lies behind and straining forward to what lies ahead,
(14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
(14) Itu sebabnya saya berlari terus menuju tujuan akhir untuk mendapatkan kemenangan, yaitu hidup di surga; untuk itulah Allah memanggil kita melalui Kristus Yesus.
(14) I press on toward the goal to win the [supreme and heavenly] prize to which God in Christ Jesus is calling us upward.
(15) Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
(15) Kita semua yang sudah dewasa secara rohani, haruslah bersikap begitu. Tetapi kalau di antaramu ada yang berpendapat lain, maka Allah akan menjelaskannya juga kepadamu.
(15) So let those [of us] who are spiritually mature and full-grown have this mind and hold these convictions; and if in any respect you have a different attitude of mind, God will make that clear to you also.
(16) Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

Sebuah ilustrasi tentang dua gelas berisi penuh cairan berwarna merah. Mari bayangkan jika gelas pertama dituangkan dengan cairan berwarna kuning sedangkan gelas kedua dituangkan cairan berwarna jernih secara terus menerus sampai terjadi perubahan warna. Benar sekali, cairan dalam gelas pertama tampak makin berwarna gelap dan menumpahkan cairan berwarna gelap. Adapun cairan pada gelas kedua berubah menjadi jernih dan menumpahkan cairan jernih.
Melalui ilustrasi ini, kita menganggap bahwa cairan berwarna kuning itu adalah kesukaan akan hal – hal duniawi sedangkan cairan jernih tersebut adalah kesukaan terhadap pengenalan akan Kristus.
Hal duniawi tersebut disebut “keuntungan palsu” seperti dikatakan oleh Rasul Paulus. Hal tersebut merugikan kita. Membuat kita makin gelap dan membagikan gelapnya kehidupan kita kepada dunia ini. Padahal, kita diutus untuk menjadi terang dunia, bukan? Lantas “keuntungan palsu” tersebut apa ya?
Keuntungan palsu adalah apapun yang kita terima dan alami akibat sikap kita yang secara tidak sadar mengejar kebahagiaan kita saja tanpa memikirkan apakah hal demikian juga membahagiakan Kristus. Jika tidak membahagiakan Kristus, itulah kerugian. Malahan, kita seharusnya menganggapnya "sampah" atau kesia-siaan. Untuk apa mengusahakan kesia-siaan ? Kita merugi dan merugikan orang lain.
Hawa nafsu adalah pemberian Tuhan yang dapat menghancurkan diri kita sendiri jika kita tidak bisa mengendalikannya. Kita melakukan kejahatan sederhana sampai kompleks entah disadari atau tidak. Kita merasa lega, tenang, ataupun sukacita. Akan tetapi, mata hati kita tertutup oleh kebahagiaan semu sehingga kita sulit menyadari bahwa kita tidak membahagialan Kristus, Sang Empunya Kehidupan kita.
Rasul Paulus menilai bahwa pengenalan akan Kristus adalah keuntungan dan lebih mulia. Mengapa demikian ? Sebagai pembanding, jika ada seseorang berusaha mengenal kamu lebih mendalam bagaimana perasaan kamu? Tentu bahagia, bukan? Ditambah lagi kamu menanggapinya dengan sukacita dan pastinya ia pun bersukacita. Kristus pun bahagia ketika kita mau berusaha mengenalnya. Sehingga kita beroleh keuntungan, yakni membahagiakan Kristus juga beroleh sukacita abadi.
Seperti hubungan kamu dengan sahabatmu, jika kamu dan Kristus saling mengenal, dipastikan kamu selalu menerima hal – hal baik entah itu berkat ataupun sukacita abadi yang melimpah, istimewanya kamu beroleh keselamatan dan hidup yang kekal dari Kristus sendiri.
Sesuai dengan ilustrasi, gelas kedua berisi cairan merah dituangkan terus menerus dengan cairan jernih akan menumpahkan cairan jernih yang melambangkan perubahan positif karena menjadi berwarna cerah. Cairan jernih itu adalah pengenalan akan Kristus. Semakin kamu berusaha mengenal Kristus, kamu pun semakin beroleh berkat dan sukacita abadi yang bisa dibagikan kepada dunia dalam rangka menyelesaikan misi sebagai terang dunia.
Bagaimana sikap kita selanjutnya ? Kita dituntut untuk mengubah tujuan akhir kita menjadi memperoleh panggilan sorgawi. Kebahagiaan sorgawi tersebut berarti mendapatkan kemenangan, yaitu hidup di surga. Untuk itulah Allah memanggil kita melalui Kristus Yesus.
Memperoleh kebahagiaan sorgawi dimulai dengan “perjuangan” mengenal Kristus lebih dalam sehingga kita bisa membedakan mana kehendak dan mana larangan-Nya sampai dengan memberlakukan cara hidup yang sesuai kehendak-Nya.
Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah melakukan HPDT (Hubungan Pribadi Dengan Tuhan) atau biasa disebut Saat Teduh. Selain itu, bertekunlah dalam persekutuan dengan sesama di mana dalam rangka lebih mengenal Kristus, misalnya KTB (Kelompok Tumbuh Bersama), KK (Kelompok Kecil), Komisi Remaja Gereja, dsb. Dalam persekutuan tersebut kita pun akan bersama – sama belajar memberlakukan cara hidup yang sesuai dengan kehendak Kristus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Leave your comment :)